jump to navigation

Laku : Sembahyang dan Olah Rasa September 22, 2008

Posted by cahbanjar in Renungan Hati.
Tags: , , , , , ,
trackback

Laku, sembahyang dan olah rasa merupakan kegiatan peribadatan kebatinan yang penting dalam perjalanan hidup dan merupakan cara untuk mencapai puncak peningkatan kekuatan spiritualitas Kejawen, yaitu menuju manunggaling kawulo gusti. Yang ditempuh dalam laku ini adalah kesatuan jiwa dan raga manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jiwa manusia merupakan rasa yang dapat merasakan kedekatan dan bahkan menyatu dengan Gusti Yang Maha Kuasa.
Rasa adalah tolok ukur pragmatis dari segala mistik orang Jawa atau Kejawen. Rasa yang membawa keadaan dirinya menjadi puas, tenang, tentram batin (tentrem ing manah), dan ketiadaan ketegangan. Karena merupkan respon kejiwaan yang diterima oleh indera atau bagian tubuh dari suatu objek tertentu, rasa dapat juga dipandang sebagai unsur psikologis manusia pada ranah efektif yang digunakan untuk menangkap kebenaran-kebenaran batiniyah.
Kebenaran-kebenaran yang diperoleh melalui laku dan rasa harus didasarkan pada ngelmu untuk menuju kesempurnaan yang hakiki. Pemikiran mistis jawa yang dikenal dengan nama ngelmu kesempurnaan (ilmu kesempurnaan), adalah jalan menuju kesatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Ngelmu dalam terminologi kejawen menggunakan kata pengawikan jawi, hakekatmya, bukan sekedar pengetahuan, melainkan mengandung kebijaksanaan. Olah pikir dan asah budi para pemikir Jawa senantiasa memakai slogan yang didambakannya yaitu memayu hayuning saliro, memayu hayuning bangsa, memayu hayuning bawana (memelihara kesejahteran diri, memelihara kesejahteraan bangsa, memelihara kesejahteraan dunia). Konsep ngelmu tersebut adalah sangat jelas dipengaruhi oleh konsep-konsep Islam, yaitu mulai dari persoalan kosmologi sampai dengan adab suami isteri, sebagaimana dalam buku-buku Kejawen Betaljemur atau Adam Ma’na yyang dipengaruhi oleh kitab Mujarobat.
Disamping kegiatan laku dan olah rasa, sembahyang juga sangat penting dalam pandangan Kejawen, meskipun kata sembahyang dalam terminologi Jawa kuno tidak ada; yang ada adalah kata sembah dan hyang. Sembah berarti menghormati, tunduk; sedangkan hyang berarti dewa atau dewata. Dengan demikian., kesatuan istilah tersebut menjadi sembahyang yang berarti penyembahan kepada dewa atau Tuhan menurut aliran kepercayan Pangestu, konsep sembahyang atau ritual ada 2 cara, yaitu ritual kelompok (bawa raos) dan ritual perorangan (panembah dan pangesti).
Tata cara ritual bawa raos meliputi : pangesti pembuka (mohon tuntunan), bawa raos (ceramah), pengungkapan pengalaman-pengalaman dalam penyiswan, pangesti penutup (mohon kesejahteraan) lagu Dandang Gula (eling-eling). Ritual perorangan panembah adalah semacam sembahyang wajib seperti shalat dalam agama Islam. Pelaksanaan waktunya sesuai dengan jenjang kesiswaannya, sedangkan pangestia adalah do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dilaksanakan kapan saja.
Kegiatan laku dan sembahyang dalam pandangan kebatinan atau Kejawen merupakan cara atau jalan untuk memperdalam olah rasa dalam pencapaian kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Gusti Allah, atau dengan kata lain menuju kesatuan manunggaling kawula gusti.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: